KABUPATEN KEDIRI – Keadaan henti jantung saat ini menjadi penyebab tertinggi kasus kematian di berbagai belahan dunia. Henti jantung dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan disebabkan oleh berbagai kondisi dan lingkungan yang beragam. Oleh karena itu, dibutuhkan serangkaian tindakan guna mencegah kematian yang diakibatkan oleh henti jantung.
Untuk melakukan pertolongan terhadap kejadian ini, diperlukan sebuah teknik untuk menolong nyawa pasca henti jantung. Teknik ini dinamakan dengan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Bantuan ini tidak hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan, namun setiap warga pada umumnya dapat melakukan BHD. Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri melalui Tim Kerja Pelayanan Kesehatan Rujukan menyelenggarakan Roadshow Sosialisasi Kegawatdaruratan Bantuan Hidup Dasar. Bersama tim PSC 119 Kabupaten Kediri sebagai Narasumber, pelaksanaan kegiatan start dari tanggal 20 Juli 2026 di MAN 1 Kediri, 21 Juli 2026 di MAN 2 Kediri, 22 Juli 2026 di MAN 3 Kediri, 23 Juli 2026 di MAN 4 Kediri, dan final day di MAN 5 Kediri pada tanggal 24 Juli 2026. Kegiatan diikuti oleh perwakilan Siswa – Siswi kelas yang antusias mengikuti rangkaian acara. Roadshow Sosialisasi Kegawatdaruratan ini menjadi bagian dari upaya dalam meningkatkan literasi kesehatan, khususnya penangganan Kegawatdaruratan medis di lingkungan sekolah, sehingga siswa – siswi mengetahui apa yang harus di lakukan apabila menjumpai kejadian kegawatdaruratan di sekitar sekaligus bisa memberikan pertolongan pertama sebelum tim medis datang di lokasi kejadian.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri menegaskan bahwa keterampilan penyelamatan darurat ini merupakan bagian dari Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) yang wajib diketahui masyarakat luas. “Layanan Public Safety Center (PSC) merupakan salah satu dari empat bidang kesehatan yang berfokus pada bidang penyelamatan. BHD ini tidak hanya diperuntukkan bagi tenaga medis saja, tetapi juga anak-anak sekolah, ibu-ibu PKK, hingga driver ambulans,” ujar Ibu Novianti Indah Fatmawati, perwakilan dari tim PSC Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri. Ia menambahkan bahwa edukasi ini sangat krusial, misalnya untuk mengantisipasi kejadian murid yang tiba-tiba jatuh atau terpeleset saat upacara sekolah. Sistem pelayanan kedaruratan ini dirancang untuk beroperasi tanpa henti guna mengantisipasi kejadian tak terduga di lapangan. “Kami ready 24 jam dalam satu minggu, yang dibagi menjadi dua shift yaitu dari jam 7 pagi sampai 7 malam, dan demikian sebaliknya. Jika ada aduan yang masuk melalui pusat center kami di nomor 085212117119, maka akan langsung kami teruskan ke puskesmas terdekat supaya segera ada penanganan,” jelas Ibu Novianti secara rinci mengenai alur penanggulangan darurat tersebut.
Materi utama disampaikan oleh Tim PSC 119 Kabupaten Kediri, yang mengulas fenomena kegawatdaruratan seperti Kecelakaan lalu lintas, tersedak makanan, tersetrium teganggan listrik tinggi, pingsan di saat upacara, henti jantung sebagai salah satu di pelajari secara dasar bagaimana apabila menjumpai dan penangganan secara tepat cepat dan cermat. Dalam paparannya, Tim PSC 119 Kabupaten Kediri menjelaskan bahwa apabila terjadi suatu kejadian kegawatdaruratan hal pertama yaitu jangan panik karena ketika panik semua hal yang di pikiran akan buyar dan tidak dapat melalukan pertolongan pertama secara cepat tepat dan cermat. Kemudian di sesi akhir Tim PSC 119 Kabupaten Kediri memberikan praktik kepada siswa – siswi yaitu bagaimana penangganan pertama pada pasien pingsan, tata cara melakukan rjp,hingga cara melakukan evakuasi dengan baik. (PSC 119 Kabupaten Kediri)


