KABUPATEN KEDIRI – Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri mendorong masyarakat untuk terus mengembangkan pengobatan tradisional berbasis Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan akupresur. Upaya ini dinilai penting sebagai bagian dari pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
“Harapan kami bahwa apa yang sudah dirintis oleh bapak kepala desa, didukung kader-kader yang sangat bersemangat ini, nantinya bisa mengembangkan TOGA di sini. Karena bagaimanapun, kekayaan alam kita banyak memberikan khasiat obat yang bermanfaat,” kata Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr. Rahma Sari Dewi usai acara pembinaan Kelompok Asuhan Mandiri Tanaman Obat Keluarga (ASMAN TOGA) dan Akupresur Barokah Desa Rejomulyo Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Rabu (27/8/2025).

Acara tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat pemanfaatan tanaman obat tradisional di tingkat desa. Dalam kegiatan tersebut, kelompok Asman TOGA mendapat penilaian dari berbagai aspek, mulai dari keragaman tanaman, penataan, variasi pengolahan, hingga partisipasi masyarakat. Penilaian juga mencakup wawasan anggota kelompok serta keberlanjutan program dari sisi input, proses, hingga output.
Rahma menambahkan, tanaman obat telah lama digunakan masyarakat Indonesia sebagai terapi tradisional. Beberapa jenis tanaman bahkan terbukti memiliki manfaat medis, seperti daun ungu yang digunakan untuk membantu mengatasi keluhan ambeien atau hemoroid. “Penggunaan tanaman obat tidak bisa instan, harus telaten dan berkesinambungan. Kalau sudah sembuh, biasanya dosis bisa dikurangi untuk pemeliharaan. Intinya, pola hidup sehat tetap menjadi kunci, dan TOGA dapat menjadi penunjang kesehatan masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, pengembangan TOGA juga sejalan dengan program promotif dan preventif kesehatan. Dengan pemanfaatan tanaman obat, masyarakat diharapkan tidak selalu bergantung pada obat kimia melainkan dapat mengandalkan sumber daya alam sekitar untuk menjaga kesehatan sehari-hari.


Sementara itu, Kepala Kelompok Asman TOGA Barokah Desa Rejomulyo, Sulistiyani, menyebut saat ini pihaknya telah mengembangkan sekitar 69 jenis tanaman obat. Tanaman itu meliputi jahe, kunyit, serai, dan berbagai rempah lain yang ditanam secara swadaya oleh masyarakat. “Awalnya kami hanya menanam di pekarangan, kemudian masyarakat sekitar ikut tertarik. Alhamdulillah, sekarang semakin berkembang. Kami sudah memproduksi minuman kunyit asam, meski belum dipasarkan secara masif. Harapannya, ke depan produk ini bisa dijual untuk menambah ekonomi ibu-ibu di sini,”kata Sulistiyani.
Menurutnya, pembinaan dari Dinas Kesehatan memberi motivasi baru bagi kelompok untuk terus berinovasi. Selain sebagai media menjaga kesehatan, TOGA juga berpotensi dikembangkan menjadi produk unggulan desa.
Dalam acara tersebut juga hadir Camat Kras, perwakilan PKK Kabupaten Kediri hingga Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan turut andil dalam penambangan TOGA di masyarakat. Mereka menilai kelompok Asman TOGA Barokah memiliki potensi besar, apalagi terbentuk melalui Dana Desa sejak 2023.
Bahkan, dengan 69 jenis tanaman obat yang ada, lokasi ini dinilai berpotensi dikembangkan sebagai wahana wisata edukasi. Selain memperkenalkan tanaman berkhasiat kepada masyarakat, juga bisa menjadi sarana pembelajaran bagi anak-anak dan pelajar di wilayah setempat.
Selain TOGA, kelompok Barokah juga mulai mengembangkan program akupresur. Teknik pijat tradisional ini dipraktikkan untuk membantu pencegahan dan terapi sederhana berbagai keluhan kesehatan.


Kepala Desa Rejomulyo Agus Mustofa menegaskan, dukungan dari pemerintah dan kader kesehatan menjadi modal penting agar program Asman TOGA semakin berkembang. “Kami berharap setelah pembinaan ini, kegiatan TOGA dan akupresur bisa terus berlanjut dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” ucapnya.
dr. Rahma Sari Dewi juga menambahkan, Dinkes Kediri berharap kelompok TOGA di Rejomulyo bisa menjadi percontohan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan untuk diikutsertakan dalam lomba tingkat kabupaten maupun provinsi. “Kalau dikelola dengan baik, manfaatnya bukan hanya kesehatan. TOGA juga bisa meningkatkan ekonomi, karena produk olahan tanaman obat bisa dipasarkan. Harapannya, semangat ibu-ibu dan kader di sini bisa menular ke desa lain,” tandasnya. Artikel ini juga telah tayang di TRIBUNMATARAMAN.COM