Dinkes Kabupaten Kediri

Angka Kematian Bayi di Kabupaten Kediri Turun 86 Persen, Dinkes Percepat Pembinaan dan Penanganan Stunting

KABUPATEN KEDIRI – Angka kematian bayi di Kabupaten Kediri turun drastis hingga 86 persen. Pada tahun 2020 kasus kematian mencapai 162 dan kirim turun menjadi 22 kasus hingga September 2025.

Penurunan sebesar 86 persen ini tidak terlepas dari pembinaan berkelanjutan antara Rumah Sakit PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif) dan Puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) yang rutin dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri bersama dokter spesialis anak.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kabupaten Kediri, dr. Ika Tjandra Kusuma menjelaskan bahwa tujuan utama pembinaan adalah menurunkan angka kematian bayi sekaligus menyelesaikan permasalahan gizi masyarakat. Pembinaan dilakukan tidak hanya dengan puskesmas PONED, tetapi juga melibatkan puskesmas di sekitarnya.

“Tujuan pembinaan ini adalah dalam rangka menurunkan angka kematian bayi dan menyelesaikan permasalahan gizi. Kegiatan ini rutin dilaksanakan dan terbukti memberikan dampak signifikan,” jelas Ika saat acara pembinaan di Desa Tanon Kecamatan Papar, Selasa (23/9/2025).

Menurutnya, upaya percepatan penurunan angka kematian bayi diiringi dengan penanganan stunting. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka stunting di Kabupaten Kediri berhasil ditekan hingga 7,9 persen, jauh lebih rendah dari rata-rata nasional.

Dokter spesialis anak RSUD Kabupaten Kediri atau RSKK Pare, dr. Meiliza yang ikut dalam pembinaan di puskesmas menambahkan bahwa kegiatan seperti ini dilaksanakan 3-4 kali dalam setahun. Fokus pembinaan diarahkan pada penanganan bayi baru lahir, kasus gawat darurat, serta pencegahan stunting.

“Kami meminta puskesmas untuk melakukan drill emergency. Jadi ketika ada bayi lahir, mereka sudah siap dari sisi alat, keterampilan, hingga prosedur rujukan. Semua ini bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi maupun balita,” terang Meiliza.

Dia menegaskan, keterampilan tenaga kesehatan di puskesmas sangat krusial karena sebagian besar pelayanan antenatal care (ANC) atau perawatan ibu hamil dilakukan di tingkat puskesmas. Dengan peningkatan kapasitas ini, diharapkan kasus kegawatdaruratan bisa segera ditangani atau dirujuk ke rumah sakit tanpa menambah risiko kematian maupun kecacatan bayi.

“Harapannya bisa menurunkan risiko kematian,” ucapnya.

Di sisi lain Bidan Koordinator Puskesmas Tanon Silatur Rokhmah yang juga mengikuti pembinaan mengaku sangat terbantu dengan program ini.

“Acara seperti ini sangat bermanfaat, kami bisa update ilmu dan menyegarkan kembali keterampilan menghadapi kasus gawat darurat. Harapannya kegiatan ini terus berlanjut, sehingga angka kematian ibu dan bayi bisa ditekan bahkan zero,” ungkap Rokhmah.

Selain pembinaan PONEK-PONED, Dinkes Kabupaten Kediri juga mengintensifkan berbagai program lain antara lain pelatihan tenaga kesehatan dalam menangani kasus darurat bayi, memperbaiki sistem rujukan puskesmas ke rumah sakit, hingga optimalisasi kunjungan posyandu.

Upaya lain yang dilakukan adalah pemberian makanan tambahan berbasis lokal, distribusi susu reguler maupun khusus anak stunting, serta penanganan ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia.

Dengan kombinasi program pembinaan berjenjang, pelatihan, dan penguatan layanan kesehatan dasar, Kabupaten Kediri optimis menurunkan angka stunting.

“Selain itu juga dapat terus menurunkan angka kematian bayi demi terwujudnya generasi emas yang sehat dan berkualitas,” tandas dr. Ika

Scroll to Top