Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri

« Selamat Datang di Situs Web Resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri ® »

PENGERTIAN ABK (ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS)




Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, 24 Maret 2016.

Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami hambatan fisik dan / atau mental sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar, dan anak yang akibat keadaan tertentu mengalami kekerasan, berada di lembaga permasyarakatan/ rumah tahanan, di jalanan, di daerah terpencil/ bencana/ konflik yang memerlukan penanganan secara khusus.

Jadi yang dimaksud Anak Berkebutuhan Khusus adalah :

  1. Anak Penyandang Cacat

Adalah setiap anak yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya yang terdiri dari penyandang cacat fisik, penyandang cacat mental dan penyandang cacat fisik dan mental.  

Sekolah khusus yang diperuntukkan bagi anak penyandang cacat  yaitu di SLB ( Sekolah Luar Biasa) di  yang dapat dikelompokkan menjadi:

  1. SLB-A    : Sekolah untuk Tunanetra (Anak yang mengalami hambatan penglihatan)
  2. SLB-B    : Sekolah untuk Tunarungu (Anak yang mengalami hambatan pendengaran)
  3. SLB-C    : Sekolah untuk Tunagrahita (Anak yang mengalami retardasi mental)
  4. SLB-D    : Sekolah untuk Tunadaksa (Anak yang mengalami cacat tubuh)
  5. SLB-E     : Sekolah untuk Tunalaras (Anak yang mengalami penyimpangan emosi dan sosial)
  6. SLB-F     : Sekolah khusus untuk Autis
  7. SLB-G    : Sekolah untuk Tunaganda (Anak yang mengalami lebih dari satu hambatan)
  1. Korban Kekerasan terhadap Anak (KtA)

Adalah semua bentuk tindakan/perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, trafiking,penelantaran, eksploitasi komersial termasuk eksploitasi seksual komersial anak (ESKA), anak korban TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang)  yang mengakibatkan cedera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggungjawab, kepercayaan atau kekuasaan.

Pada kasus KtA korban dapat mendapatkan pelayanan medis dan non medis.

  1. Pelayanan medis mencakup unsur pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas, pelayanan kesehatan rujukan di Rumah Sakit yang memiliki PPT (Pusat Pelayanan Terpadu) atau PKT (Pusat Krisis Terpadu) yang memiliki tim terdiri dari dokter,perawat,pekerja sosial,psikolog dan ahli hukum.
  2. Pelayanan non medis mencakup aspek hukum, psikoedukatif dan sosiobudaya di tingkat dasar dan rujukannya yang melibatkan shelter/rumah aman/pendampingan, Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA).
  1. Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) di Lapas / Rutan

Di Indonesia anak yang berhadapan dengan hukum dan menjalani pembinaan di lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) disebut sebagai anak didik pemasyarakatan (andikpas). Pada dasarnya andikpas adalah anak yang mempunyai hak yang sama dengan anak-anak lainnya.

  1. Anak jalanan dan pekerja anak

Kecenderungan meningkatnya anak yang bekerja di sektor informal dan di jalanan disebabkan oleh masalah sosial sebagai dampak dari krisis ekonomi. Anak yang bekerja di jalanan dan di sektor informal rentan terhadap masalah kesehatan yang berkaitan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti merokok, penyalahgunaan NAPZA, infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS, dampak akibat hubungan kerja seperti terjadinya kekerasan fisik dan emosional serta penyakit akibat kerja seperti dampak menghirup lem, CO2 dan lain-lain. Upaya penanganan kesehatan anak jalanan/pekerja anak melalui pendekatan multidisiplin dengan lintas program dan sektor terkait termasuk organisasi profesi dan LSM.

  1. Anak Panti Asuhan

Panti anak adalah Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) yang memberikan pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak terlantar yang berada di dalam panti maupun anak terlantar di lingkungan sekitar panti / pelayanan di luar panti.

Merujuk pada Standar Nasional Pengasuhan Anak di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak tahun 2011, maka istilah Panti selanjutnya diganti menjadi Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA).

  1. Anak kelompok minoritas/terisolasi/terasing
  1. Kelompok minoritas adalah kelompok yang dilihat dari jumlahnya lebih kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk lainnya dari negara bersangkutan dalam posisi yang tidak dominan.
  2. Kelompok masyarakat terasing atau komunitas adat terpencil adalah kelompok orang yang hidup dalam kesatuan sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial, ekonomi maupun politik nasional.

TUJUAN   :

Tujuan Umum : 

Meningkatkan jangkauan dan kualitas perlindungan kesehatan bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Tujuan Khusus :

  1. Meningkatnya pelayanan kesehatan bagi Anak Berkebutuhan Khusus.
  2. Meningkatnya jejaring kerjasama pelayanan kesehatan bagi Anak Berkebutuhan Khusus.
  3. Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang Anak Berkebutuhan Khusus.

SASARAN :

  1. Pengelola program pelayanan kesehatan anak berkebutuhan khusus
  2. Lintas program dan Lintas sektor terkait
  3. Organisasi Masyarakat, Organisasi Profesi dan Lembaga Swadaya Masyarakat
  4. Kelompok / komunitas peduli Anak Berkebutuhan Khusus
  5. Keluarga dan Masyarakat

STRATEGI OPERASIONAL PELAYANAN KESEHATAN :

Pembinaan kesehatan anak berkebutuhan khusus sama seperti pembinaan kesehatan pada umumnya yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Pelayanan kesehatan terhadap Anak Berkebutuhan Khusus harus memperhatikan kebutuhan dasar anak. Kebutuhan yang dimaksud meliputi 3 aspek yaitu asuh, asih dan asah.

  1. (Kebutuhan fisik biologis) antara lain asupan nutrisi termasuk Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ASI Eksklusif; Makanan Pendamping ASI (MP-ASI); perawatan kesehatan; imunisasi lengkap; penimbangan teratur dan periodik; Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) khususnya pertumbuhan fisik, kebersihan badan dan lingkungan, pengobatan; sandang, pangan, papan, olahraga, bermain/rekreasi.
  2. (ikatan serasi antara ibu dan anak) antara lain pemberian rasa aman dan nyaman, perlindungan, perhatian, dukungan, penghargaan, komunikasi yang menyenangkan, lingkungan yang ceria dan menghibur, anak diberi contoh (bukan dipaksa) dan dibimbing (bukan diancam/dihukum).
  3. antara lain proses belajar (pendidikan/pelatihan) pada anak; stimulasi sedini mungkin Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) khususnya pengembangan intelegensia, meliputi kecerdasan majemuk, budi luhur, moral dan etika, kepribadian, ketrampilan berbahasa, kemandirian, kreatifitas, produktifitas dan lain-lain.

Langkah-langkah Pelayanan Kesehatan Anak Berkebutuhan Khusus :

  1. Meningkatkan akses anak berkebutuhan khusus terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan pendekatan sesuai kebutuhan, antara lain :
  1. Korban KtA melalui pelayanan komprehensif dengan pendekatan medis, psikososial dan medikolegal.
  2. Anak cacat melalui pelayanan UKS di SLB/sekolah inklusi dan pelayanan di panti.
  3. Anak di Lapas/Rutan melalui poliklinik Lapas/Rutan dan rujukan ke Puskesmas/ RS.
  4. Anak jalanan melalui rumah singgah/shelter dan rujukan ke Puskesmas.
  1. Meningkatkan kapasitas petugas kesehatan pemberi layanan di Puskesmas dan RS dalam upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif melalui pelatihan/orientasi program.
  2. Meningkatkan manajemen program kesehatan anak berkebutuhan khusus di instutusi pelayanan dasar (Puskesmas), institusi pelayanan rujukan (Rumah Sakit), Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan Provinsi.
  3. Meningkatkan jejaring kemitraan dengan Lintas Program, Lintas Sektor, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, LSM dan organisasi profesi terkait dan pihak swasta.
  4. Meningkatkan sistem informasi, pencatatan pelaporan, monitoring dan evaluasi program kesehatan anak berkebutuhan khusus.
  5. Menggerakkan dan memberdayakan keluarga/masyarakat untuk mendukung upaya program kesehatan anak berkebutuhan khusus.

[Seksi Promkes -  SGI]




Print Friendly Version of this pageCetakGet a PDF version of this webpagePDF