Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri

« Selamat Datang di Situs Web Resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri ® »

GERAKAN NASIONAL BUGAR DENGAN JAMU (BUDE JAMU)




Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, 13 September 2016.

Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati yang dimanfaatkan secara turun temurun oleh masyarakat untuk menjaga kesehatan dalam bentuk obat tradisional yaitu jamu.

Jamu sudah dikenal sejak jaman nenek moyang sebelum ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan obat-obatan modern masuk ke Indonesia. Kebanyakan resep racikan jamu berumur puluhan atau bahkan ratusan tahun dan terus digunakan secara turun temurun sampai sekarang ini.

Menurut ahli bahasa Jawa Kuno, istilah “jamu” berasal dari singkatan dua kata bahasa Jawa Kuno yaitu “Djampi” dan “Oesodo”. Djampi berarti penyembuhan yang menggunakan ramuan obat-obatan atau doa-doa dan ajian-ajian sedangkan Oesodo berarti kesehatan. Pada abad pertengahan (15-16 M), istilah oesodo jarang digunakan. Sebaliknya istilah jampi semakin popular diantara kalangan keraton. Bukti bahwa jamu sudah ada sejak jaman dulu dan sering dimanfaatkan adalah dengan adanya relief Candi Borobudur pada masa Kerajaan Hindu-Budha tahun 722 M, di mana relief tersebut menggambarkan kebiasaan meracik dan minum jamu untuk memelihara kesehatan. Bukti sejarah lainnya yaitu penemuan prasasti Madhawapura dari peninggalan Kerajaan Hindu-Majapahit yaitu adanya profesi “tukang meracik jamu” yang disebut Acaraki.

Tak dapat dipungkiri jamu merupakan aset nasional yang  sangat potensial dan sudah seharusnya dikembangkan menjadi komoditi yang unggul  tidak hanya untuk kesehatan tetapi juga peningkatan perekonomian masyarakat.

Seiring dinamika perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang kesehatan maka diperlukan upaya pelestarian budaya minum jamu untuk menjaga kesehatan. Salah satu upaya Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI untuk  menggalakkan minum jamu dengan meluncurkan Gerakan Bugar dengan Jamu (Bude Jamu) pada 23 Januari 2015 di halaman kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
Peluncuran gerakan Bude Jamu merupakan tindak lanjut dan operasionalisasi dari komitmen kita bangsa Indonesia untuk mengangkat jamu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Tujuan Gerakan Bude Jamu

Menggerakan seluruh elemen masyarakat untuk melestarikan Budaya Minum Jamu

Visi

Menjadikan Jamu sebagai Pilihan Pertama untuk Menjaga Kesehatan Keluarga

Misi

  1. Melestarikan budaya minum jamu untuk mendukung Indonesia Sehat sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat.
  2. Menjamin jamu yang aman, bermutu dan bermanfaat.

Target yang ingin dicapai

  1. Jamu aman, bermutu, bermanfaat
  2. Budaya minum jamu
  3. Nilai tambah dan daya saing
  4. Kesejahteraan Pelaku Usaha dan Masyarakat

Dengan penggalakan Gerakan Bude Jamu ini tentunya berdampak pada peningkatan tuntutan masyarakat akan tersedianya produk berbahan alam yang aman, bermutu dan bermanfaat serta dikemas secara praktis sesuai pola hidup masyarakat modern.

Sesduai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No.006 tahun 2012 tentang Industri dan Usaha Obat Tradisional, Obat tradisional (OT) adalah bahan ramuan, bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Dengan bentuk sediaan cairan obat dalam, cairan obat luar, serbuk, rajangan, tablet dan kapsul.

Penggolongan produk jadi obat tradisional dengan izin edar di masyarakat yaitu :

Jamu: obat tradisional yang digunakan secara turun temurun

Obat herbal terstandar: obat tradisional yang sudah dibuktikan mutu, keamanan dan manfaatnya secara ilmiah dengan bahan baku yang memenuhi standar

Fitofarmaka: obat herbal terstandar yang telah dilakukan pembuktian lebih tinggi secara ilmiah

Dalam hal penyebaran jamu di masyarakat yang mudah diakses dan merupakan lini terdepan dalam penjualan jamu adalah Usaha Jamu Gendong (UJG) dan Usaha Jamu Racikan (UJR).

UJG lebih mudah ditemui karena UJG menjajakan jamunya dengan berkeliling , jamu yang dijual biasanya jamu segar yang ditempatkan dalam wadah botol.

Sedangkan UJR memiliki depot jamu yang menyediakan berbagai varian jamu baik segar maupun jamu seduhan.

Dalam upaya tersedianya jamu yang aman dan bermanfaat maka Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Obat dan Obat Tradisional, Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan melaksanakan pembinaan terhadap pelaku UJG dan UJR  melalui kegiatan Workshop Usaha Jamu Gendong (UJG dan Usaha Jamu Racikan (UJR) dan) wilayah Kabupaten Kediri dan Kota Kediri pada tanggal 17 Mei 2016 bertempat di Hotel Grand Surya, Kediri. Melalui kegiatan ini pelaku UJG dan UJR diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dalam hal pemilihan bahan baku jamu dan dapat menerapkan higiene dan sanitasi pada saat pembuatan.

Serta menekankan bahwa jamu yang dibuat tidak boleh mengandung Bahan Kimia Obat (BKO) karena berakibat membahayakan kesehatan.

Berikut adalah tips-tips memilih jamu yang aman:

  • Jamu dibuat segar (selalu baru, tanpa pengawet)
  • Boleh ditambah :
    • Madu
    • Kuning telur
    • Anggur jamu
  • Apabila dalam bentuk kemasan dan tahan lama , Obat Tradisional tersebut harus mempunyai izin edar (POM TR) bisa dicek www.pom.go.id
  • Tidak boleh menambahkan obat/ bahan kimia apapun.
  • Tidak dirasakan manfaatnya secara langsung melainkan setelah penggunaan berulang sesuai aturan pakai, tidak menyebutkan dapat “menyembuhkan” penyakit.
  • Obat tradisional tidak diedarkan dalam bentuk intravaginal, tetes mata, parenteral.

LESTARIKAN BUDAYA MINUM JAMU UNTUK MENJAGA KESEHATAN DAN KEBUGARAN KELUARGA

(Seksi Kefarmasian dan Penyehatan Makanan Minuman) – [SGI]




Print Friendly Version of this pageCetakGet a PDF version of this webpagePDF