Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri

« Selamat Datang di Situs Web Resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri ® »

KONTRASEPSI ALAMIAH SEBAGAI SALAH SATU PILIHAN




Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, 09 Juli 2015.

Mengatur kelahiran secara alamiah ternyata lebih efektif dan lebih disukai perempuan dan pasangannya. Kenapa? Program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia selama Orde Baru berjalan sukses dan efektif untuk menekan angka kelahiran. Namun, kini program KB sudah mulai kendur karena masyarakat kurang suka menggunakan bermacam obat sebagai kontrasepsi dengan berbagai alasan, seperti adanya efek samping.

Saat ini ada solusi yang tampaknya perlu dicoba dan dimasyarakatkan, yaitu mengatur kelahiran secara alamiah. Berdasarkan penelitian dari Institut Kesehatan Reproduksi Universitas Georgetown, Washington, Amerika Serikat (AS), metode keluarga berencana alamiah ternyata lebih efektif dan bisa diterima perempuan serta pasangannya..

Dengan metode mengatur kehamilan secara alamiah, selain mampu menekan angka kelahiran, juga tak mengganggu aktivitas hubungan seksual pasangan suami-istri (pasutri). Wajar bila metode ini lebih bisa diterima masyarakat. Seperti dalam penelitian Jennings yang melibatkan masyarakat di 14 wilayah di enam negara.

“Saya benar-benar yakin metode ini harus disebarluaskan untuk dijadikan pilihan program KB. Perempuan mempunyai banyak pilihan untuk program KB, tetapi metode ini perlu dicoba,” jelas Dr Victoria Jennings, Direktur Institut Kesehatan Reproduksi Universitas Georgetown.

Jennings mengatakan, metode mengatur kelahiran secara alamiah dikenal dengan metode standar hari (MSH), yang menghitung berdasarkan siklus masa subur perempuan. Perempuan mempunyai siklus menstruasi setiap bulan antara 26 hingga 32 hari, biasanya masa subur yang berpeluang terjadi kehamilan jika ada pembuahan pada hari ke-8 sampai ke-19.

Dengan menghitung siklus menstruasi dan masa subur, pasutri bisa mengatur waktu berhubungan seksual. Bila mereka belum menginginkan kehamilan, sebaiknya menghindarinya pada masa subur.

Pada penelitian MSH Jennings melibatkan 1.646 perempuan dari 14 wilayah di enam negara dari Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Mereka dibandingkan dengan perempuan yang menggunakan berbagai alat kontrasepsi dan pasangan yang menggunakan kondom. Hasilnya, perempuan yang menggunakan metode MSH probabilitas terjadi kehamilan adalah 12 per 100 perempuan setiap tahunnya. Sementara itu, yang menggunakan metode klinis probabilitasnya adalah 14,1 per 100 perempuan setiap tahunnya.

Sistem kalender merupakan sebuah metode KB alamiah (KBA) yang paling tua. Dr. Knaus, seorang ahli kebidanan dari Vienna dan Dr. Ogino, ahli ginekologi dari Jepang adalah pencetus KBA sistem kalender. Keduanya secara terpisah menemukan bahwa ovulasi berhubungan erat dengan menstruasi berikutnya daripada dengan menstruasi sebelumnya.

Menurut Knaus, ovulasi terjadi tepat 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Sementara itu, Ogino berpendapat bahwa ovulasi tidak selalu terjadi tepat pada 14 hari sebelum menstruasi, tetapi dapat juga terjadi antara 16 atau 12 hari sebelum menstruasi berikutnya. Ogino yakin bahwa kemampuan sel sperma untuk hidup dalam saluran reproduksi wanita tak lebih dari 3 hari saja. Ogino juga berpendapat bahwa sel telur hanya dapat dibuahi dalam beberapa jam saja setelah ovulasi. Kedua hasil penelitian inilah yang menjadi dasar dari KBA sistem kalender.

Sistem kalender menggunakan sejarah siklus menstruasi wanita untuk menentukan masa-masa tidak subur (masa aman dalam melakukan hubungan intim). Penghitungan masa-masa tersebut berdasarkan asumsi bahwa sel sperma hanya mampu hidup di saluran reproduksi paling lama 3 hari. Ternyata penelitian lebih jauh membuktikan bahwa sel sperma ternyata mampu hidup selama 5 hari dalam saluran reproduksi wanita, asalkan wanita dalam keadaan masa subur. Kenyataan ini mengakibatkan efektifitas KBA sistem kalender menjadi rendah. Kehamilan akibat salah menghitung kemampuan hidup sperma dalam masa-masa subur menjadikan metode KBA dengan sistem kalender menjadi sebuah stigma.

Banyak orang yang merasa sangsi, benarkah KBA sistem kalender dapat menjadi suatu metode untuk mencegah kehamilan. Siklus menstruasi yang tidak teratur merupakan penghambat yang umum dilontarkan para calon akseptor KBA sistem kalender

PENGHITUNGAN MASA TIDAK SUBUR

 Kini masa tidak subur sebelum ovulasi (pre-ovulatory ini fertile) dihitung berdasarkan siklus terpendek selama 12 bulan dikurangi 21 hari. Angka 21 didapat dari 16 hari fase luteal (fase pematangan sel telur) yang paling panjang ditambah dengan 5 hari kemampuan hidup sel sperma dalam saluran reproduksi.

Tabel di bawah ini memperlihatkan bagaimana menentukan masa tidak subur sebelum ovulasi

Lama siklus menstruasi

Masa tidak subur sebelum ovulasi

  • »  28 hari atau lebih, Hari ke-1 sampai hari ke-7
  • »  27 hari, Hari ke-1 sampai hari ke-6
  • »  26 hari, Hari ke-1 sampai hari ke-5
  • »  25 hari, Hari ke-1 sampai hari ke-4
  • »  24 hari, Hari ke-1 sampai hari ke-3
  • »  23 hari, Hari ke-1 sampai hari ke-2
  • »  22 hari, Hari ke-1
  • »  21 hari, Tidak ada

Sementara itu, masa tidak subur setelah ovulasi (post ovulatory infertile) dihitung dengan formula masa menstruasi terpanjang selama 12 bulan dikurangi dengan 9 hari. Angka 9 hari didapat dari 11 hari (masa terpendek dari fase luteal) dikurangi dengan 2 hari (masa hidup sel telur).

Tabel di bawah ini memperlihatkan bagaimana menentukan masa tidak subur sesudah ovulasi.

Lama siklus menstruasi

Masa tidak subur sesudah ovulasi

  • »  Kurang dari 28 hari, Dari hari ke-19
  • »  29 hari, Dari hari ke-20
  • »  30 hari, Dari hari ke-21
  • »  31 hari, Dari hari ke-22
  • »  32 hari, Dari hari ke-23
  • »  33 hari, Dari hari ke-24
  • »  34 hari, Dari hari ke-25
  • »  35 hari, Dari hari ke-26
  • »  36 hari, Dari hari ke-27
  • »  37 hari atau lebih, Dari hari ke-28

Data tentang lama menstruasi terpanjang dan terpendek perlu terus menerus dicatat dan diperbaharui, sehingga perhitungan masa tidak subur sebelum dan sesudah ovulasi lebih akurat.

EFEKTIVITAS KBA SISTEM KALENDER

Efektivitas KBA sistem kalender sangat tergantung pada kelengkapan data siklus menstruasi seorang wanita. Semakin lengkap datanya, semakin akurat pula perhitungannya. Tak ada seorang wanita pun di dunia ini yang tahu pasti kapan ia akan ovulasi. Disamping itu, tidak ada jaminan bahwa siklus menstruasi seseorang sudah pasti teratur datangnya. Oleh sebab itu, komitmen untuk mencatat siklus menstruasi sangat berpengaruh terhadap efektivitas sistem kalender.

Berikut ini adalah faktor-faktor yang membuat KBA sistem kalender menjadi tidak efektif.

  • Penentuan masa tidak subur didasarkan pada kemampuan hidup sel sperma dalam saluran reproduksi wanita adalah 3 hari.
  • Perdarahan yang kadang datang bersamaan dengan ovulasi dapat diinterpretasikan sebagai menstruasi. Akibatnya, perhitungan masa tidak subur sebelum ovulasi dan masa tidak subur setelah ovulasi menjadi tidak tepat
  • Penentuan masa tidak subur tidak berdasarkan pada siklus menstruasi sendiri
  • Kurangnya pemahaman tentang hubungan antara ovulasi dan perubahan jenis mukus yang menyertainya.
  • Adanya anggapan bahwa hari pertama siklus menstruasi dihitung dari berakhirnya perdarahan menstruasi sehingga semua perhitungan penentuan masa tidak subur otomatis menjadi salah.

Penelitian di Sydney yang dilakukan oleh Dr. Johnson beserta rekan-rekannya (1978) selama satu tahun menunjukan bahwa efektivitas KBA akan naik tiga kali lipat ketika pasangan suami istri memakai KBA dengan metode Simpto-Thermal. Metode ini diuraikan pada artikel lainnya.

Keterbatasan dari sistem kalender ini adalah suami istri tidak dapat melakukan hubungan seks setiap saat bila tidak menginginkan kehamilan. Padahal kebutuhan biologis tidak ada batasan waktu. Istri justru libidonya meningkat pada saat masa subur. Untuk itu KB sistem kalender ini harus dikombinasikan  dengan pemakaian alat KB kondom. Pada saat masa subur suami istri tetap bisa melakukan hubungan suami istri tetapi dengan menggunakan kondom.

(Sumber : Riono Notodiharjo, 2002  Reproduksi, Kontrasepsi, dan Keluarga Berencana : Metode KB tanpa bantuan obat-obatan dan peralatan)




Print Friendly Version of this pagePrintGet a PDF version of this webpagePDF