Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri

« Selamat Datang di Situs Web Resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri ® »

STANDART PELAYANAN NIFAS




Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, 09 Juli 2015.

Masalah kebidanan adalah masalah yang dapat  diidentifikasi dari seluruh lapangan praktek maternitas mulai dari antenatal care sampai dengan post natal care. Dalam pembahasan kali ini penulis menyoroti permasalahan post natal care di Kab Kediri dimana pada Semester pertama Tahun 2009 ini, jumlah kematian ibu yang terbanyak terjadi pada masa nifas, yaitu 10 kematian dari total 11 kematian. Dari banyaknya kasus kematian ibu yang terjadi pada masa nifas ini, selain disababkan karena komplikasi saat masa hamil, juga disebabkan karena banyaknya ibu nifas yang kurang mendapat perawatan yang adekuat pada masa nifas. Selain penyebab diatas, permasalahan tersebut juga timbul karena kurangnya pengetahuan ibu dan keluarga tentang Resiko tinggi ibu nifas, kurangnya ketrampilan ibu nifas tentang cara perawatan payudara, perineum, cara menyusui yang benar, pola nutrisi ibu nifas dan program Keluarga Berencana.

Apabila masalah – masalah diatas terjadi, maka akan menimbulkan suatu masalah kesehatan dan dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pada ibu nifas, yang mana sebenarnya masalah – masalah tersebut diatas dapat dicegah dengan memberikan asuhan kebidanan yang baik dan benar sesuai standart dan kewenangan bidan.

Standar praktek asuhan Kebidanan nifas disusun untuk memberikan asuhan kebidanan yang berkualitas dan merupakan suatu kewenangan melakukan tindakan kebidanan. Tipe standar yang digunakan untuk membuat standar asuhan kebidanan nifas pada makalah ini menggunakan tipe standar normatif, berorientasi kepada praktek kebidanan ideal yang harus diberikan kepada klien nifas. Dengan pendekatan ini penyusunan standar praktek asuhan kebidanan nifas digunakan pendekatan proses keperawatan meliputi: Pengkajian, Diagnosa kebidanan, Identifikasi hasil yang diharapkan, Perencanaan, Implementasi, dan Evaluasi (Varney).

Teori kebidanan yang digunakan adalah teori “Self Care Deficit” yang dikemukakan oleh Dorothea Orem. Filosofi Orem dikatakan bahwa manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan dalam merawat dirinya sendiri. Yang dimaksud dengan self care ( perawatan mandir ) adalah aktivitas seseorang untuk menolong dirinya sendiri dalam mempertahankan hidup, kesehatan dan kesejahteraan. Teori  ini digunakan sebagai dasar dalam memberikan asuhan kebidanan nifas. Bidan yang profesional bertanggung jawab dalam membantu klien dan keluarga untuk mencapai kemandiriannya. Kemandirian ibu nifas bisa tercapai bila kegiatan asuhan kebidanan didasari adanya kerjasama yang baik antara bidan dalam memberikan pengetahuan dan motivasi kepada ibu nifas dalam memenuhi kebutuhan klien ibu nifas.

Beberapa keuntungan dalam teori bagi ibu nifas yaitu pengetahuan akan meningkat dan akhirnya ibu dan keluarga akan mandiri dalam pemeliharaan kesehatannya. Kemandirian pada ibu nifas sangatlah penting karena setelah pulang, keluarga harus mampu merawat untuk mempertahankan kesehatan dan kesejahteraannya.

Berikut ini  standart pelayanan nifas dalam kebidanan adalah :

a.   Standart 14 : Penanganan pada dua jam pertama setelah persalinan.

Bidan melakukan pemantauan pada ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi  dalam dua jam  setelah persalinan, serta melakukan tindakan yang diperlukan. Di samping itu, bidan memberikan penjelasan tentang hal – hal yang mempercepat pulihnya kesehatan ibu dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI.

b.   Standart 15 : Pelayanan bagi ibu dan bayi pada masa nifas.

Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada hari ketiga, minggu kedua, dan minggu ke enam setelah persalinan untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini, penanganan, atau perujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, Imunisasi dan

Disamping standart untuk pelayanan kebidanan dasar ( antenatal, persalinan, dan nifas ), berikut merupakan standart penanganan obstetric-neonatus yang harus dikuasai bidan untuk menyelamatkan jiwa ibu dan bayi :

a.   Standart  21 : Penanganan perdarahan post partum primer

Bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebihan dalam 24 jam pertama setelah persalinan ( perdarahan postpartum primer ) dan segera melakukan pertolongan pertama untuk mengendalikan perdarahan

b.   Standart 22  : Penanganan perdarahan post partum sekunder

Bidan  mampu mengenali secara tepat dan dini tanda serta gejala perdarahan post partum sekunder, dan melakukan pertolongan pertama untuk menyelamatkan jiwa ibu dan atau merujuknya

c.   Standart  23 : Penanganan sepsis puerpuralis

Bidan mampu mengenali secara tepat tanda dan gejala sepsis puerpuralis, serta melakukan pertolongan pertama atau merujuknya

Terakhir kesimpulan dari penulis adalah profesi bidan dituntut dapat memberikan  asuhan yang bermutu kepada klien. Mutu asuhan kebidanan ditentukan oleh standart yang telah ditetapkan oleh profesi kebidanan yang kemudian dituangkan dalam Permenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002 yang bisa digunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik. Wassalam (Oleh: Siti Lailatuz Z.)




Print Friendly Version of this pagePrintGet a PDF version of this webpagePDF